Nyai Sobir
"Ribuan
bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu,
tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.
Mereka
semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang
famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri
yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.
Almarhum
sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya milik mereka
para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke mesjid yang sudah
penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah sadar mengikuti
upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat almarhum, yang memberi
sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai dari berbagai daerah
memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis siapa-siapa mereka. Aku hanya
asal mengamini.
Hari
berikutnya dan berikutnya, banjir jama’ah laki-laki perempuan tak susut
meluapi makam dan mesjid pesantren kami. Alunan tahlil dan doa seolah
tak pernah putus dari pagi hingga malam hari. Mereka meratapi kepergian
almarhum yang selama ini mereka anggap guru dan bapak. Sandaran mereka.
***
Kiai
Sobir atau yang popular dipanggil Mbah Sobir adalah sesepuh dalam arti
yang sebenarnya di wilayah kabupaten kami dan sekitarnya. Di samping
mengasuh pesantren dengan ratusan santri laki-laki perempuan, beliau
secara de facto juga mengasuh dan melayani ribuan ’santri kalong’.
Mereka yang tidak tinggal menetap di pesantren, tapi selalu datang untuk
mengikuti pengajian rutin beliau atau yang sekadar sowan dengan
berbagai keperluan. Belum lagi mereka yang datang dari tempat-tempat
yang jauh. Bahkan banyak sekali pejabat dari tingkat propinsi dan pusat
yang menyempatkan diri sowan kiai sepuh yang sederhana ini.
Dalam hal menerima tamu, pastilah tak ada yang dapat menandingi Kiai Sobir. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam, ndalem*)
beliau tak pernah sepi dari tamu, baik yang datang perorangan
atau—kebanyakan—berombongan. Bahkan tidak jarang rombongan tamu datang
tengah malam. Dan ’peraturannya’, setiap tamu yang datang harus makan.
Ruang tamu ndalem beliau
yang sederhana, didominasi oleh dua bale-bale besar dari bambu dialasi
tikar pandan. Ada bangku memanjang tempat Mbah Sobir duduk dan—biasanya
dengan—kiai atau tamu sepuh yang diajak duduk bersama beliau. Di
depannya ada meja kuno yang selalu penuh dengan makanan, dikelilingi
beberapa kursi yang tidak seragam. Di atas dua bale-bale besar itulah
biasanya santri-santri ndalem dengan sigap mengatur hidangan untuk makan para tamu.
Kiai
Sobir tidak membedakan siapa-siapa yang datang kepada beliau. Siapa pun
tamunya, pejabat tinggi atau rakyat jelata; laki-laki atau perempuan;
dari kalangan santri atau tidak; beliau terima dengan gembira dan penuh
penghormatan. Telinga beliau dengan sabar menampung segala keluhan,
curahan hati, bahkan bualan tamu-tamunya yang beragam. Di hadapan
beliau, semua orang merasa benar-benar menjadi manusia yang merdeka.
Manusia yang dimanusiakan.
Maka
mereka pun tak segan-segan mengutarakan keperluan-keperluan mereka.
Mulai dari mengundang ceramah, hingga mengundang untuk peletakan batu
pertama pembangunan mesjid atau madrasah. Mulai dari minta doa restu,
hingga minta utangan. Dari minta air suwuk**)
untuk anak yang rewel, hingga minta nasihat perkawinan. Dari minta
dicarikan jodoh, hingga minta dicarikan mantu. Dari minta arahan
menggarap sawah, hingga minta dukungan untuk pilkada. Dari minta fatwa
keagamaan, hingga minta bantuan kenaikan pangkat .
Maka tak heran bila kepergian Kiai Sobir mendapat perhatian yang begitu luas.
***
Semua
perhatian hanya tertuju kepada almarhum bahkan sampai peringatan wafat
beliau yang ke-40. Empati hanya tertuju kepada mereka sendiri yang
merasa kehilangan Kiai Sobir. Aku terlupakan sama sekali. Aku adalah
istri almarhum yang selama ini mereka panggil Nyai Sobir. Perempuan yang
kemarin-kemarin juga mereka perhatikan dan hormati bersama almarhum.
Perempuan yang mendampingi beliau sejak nyai sepuh wafat hingga akhir
hayat beliau.
Akulah
yang selama ini mengatur keperluan-keperluan pribadi abah (begitu aku
selalu memanggil beliau) sehari-hari; mulai potong rambut hingga pakaian
yang abah kenakan. Akulah yang mengatur jadwal abah; kapan mendatangi
undangan-undangan dan kapan mesti istirahat. Akulah juga yang mengatur
agar mereka yang sowan tidak ada yang terlantar. Semua harus disuguh
makan seperti yang dikehendaki abah.
Peringatan
40 hari wafat almarhum abah, banjir manusia kembali meluapi kawasan
pesantren kami. Setelah itu barulah pengunjung yang berziarah agak
menyusut. Aku tidak tahu apakah orang-orang mulai mengingatku sebagai
Nyai Sobir pendamping kiai mereka atau tidak; yang jelas aku sendiri
teringat saat nyai sepuh, istri abah yang pertama wafat. Teringat
beberapa bulan kemudian aku yang kala itu nyantri di pesantren abah dan
baru berumur 20 tahun, dipinang abah melalui seorang tokoh masyarakat di
desaku.
Ketika
kemudian orangtuaku—yang juga termasuk santri kiai abah—menyampaikan
pinangan itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaanku campur aduk tidak
karuan. Kaget, tidak percaya, bangga, dan entah apa lagi. Tapi karena
kedua orangtuaku sepertinya mendukung, aku pun akhirnya ikut saja
seperti kerbau dicocok hidung. Walhasil jadilah aku Nyai Sobir. Istri
seorang kiai besar yang dihormati tidak hanya di wilayah kota kami saja.
Kiai yang bila ada pembesar datang dari ibu kota, tidak pernah
terlewatkan dikunjungi dengan segala penghormatan.
Sebagai
pendamping kiai sekaliber abah, aku mempunyai sedikit modal. Di samping
berwajah lumayan, aku hafal Al-Quran dan di pesantren bagian puteri,
aku menjabat sebagai pengurus inti. Ditambah lagi, berkat latihan setiap
malam Selasa di pesantren, aku sedikit bisa berpidato. Maka tidak lama,
aku sudah benar-benar bisa menyesuaikan diri. Masyarakat pun tampaknya
sudah benar-benar memandangku sebagai nyai yang pantas mendampingi Kiai
Sobir. Bahkan sesekali aku diminta panitia mewakili abah mengisi
pengajian.
Dari
sisi lain; perasaanku terhadap abah yang semula lebih kepada
menghormati, berangsur menjadi menyintai beliau. Apalagi abah begitu
baik dan bijaksana sikapnya terhadap diriku yang dari segi umur terpaut
sangat jauh. Abah tahu bahwa aku masih muda dengan pikiran dan
keinginan-keinginan anak muda. Abah tidak pernah melarangku misalnya
melihat televisi atau mendengar lagu-lagu dari radio. Paling-paling
beliau hanya mengingatkan supaya aku tidak melupakan tugas-tugas.
Peringatan
100 hari wafat abah, kemudian 1 tahun, kemudian peringatan haul beliau
setiap tahun (sekarang sudah haul yang ke 7), terus ramai dibanjiri
ribuan orang dari berbagai penjuru. Aku terlupakan atau tidak oleh
mereka. Tapi aku benar-benar terus merasa sendirian.
***
Abah,
apakah di sana abah masih memperhatikanku seperti dulu? Aku kini
benar-benar sendirian, abah. Sendirian. Alangkah cepatnya waktu.
Alangkah singkatnya kebersamaan kita. Kini tak ada laki-laki yang kuurus
sehari-hari. Tidak ada orang yang selalu memperhatikanku, yang
menasihati dan memarahiku. Dan persis seperti kata Titik Puspa dalam
salah satu tembangnya. Tidak ada lagi tempat bermanja.
Aku
mencoba sebisaku ikut mengurus pesantren tinggalan abah. Alhamdulillah
ustadz-ustadz yang gede-gede masih setia mengajar di madrasah dan
pesantren kita. Pengurus pesantren juga masih menganggap aku Nyai mereka
dan mereka taati seperti saat abah masih hidup.
Ah,
semuanya seperti berjalan biasa-biasa saja, abah. Hanya setiap malam
ketika aku sendirian, aku selalu teringat abah. Pedih rasanya tak
mempunyai kawan berbincang yang seperti abah; yang setia mendengarkan
celotehku meski sepele, yang siap membantu memecahkan masalah yang aku
lontarkan. Oh, abah. Kini aku mempunyai masalah besar dan abah tak ada
di sampingku.
Orang
mulai memperhatikanku. Tapi tidak seperti perhatian mereka saat abah
masih ada. Kini mereka memperhatikanku sebagai janda muda. Baru setahun
abah meninggalkan kami, sudah ada saja godaan yang harus aku hadapi.
Seorang ustadz yang sudah mempunyai dua orang istri, terang-terangan
melamar aku. Lalu seorang duda kaya mengirimkan proposal lamaran,
lengkap dengan CV-nya. Belakangan seorang perwira polisi bujangan juga
menyampaikan keinginannya yang serius mempersunting aku. Semuanya aku
tolak dengan halus.
Kemudian
kedua orangtuaku sendiri dengan hati-hati menanyakan kepadaku apakah
aku memang sudah ingin menyudahi status jandaku. Ingin didampingi oleh
seorang suami. Namun ketika aku tanya ”Kawin dengan siapa?” kedua
orangtuaku tidak bisa menjawab. Dan sejak itu mereka tidak pernah
menyinggung-nyinggung masalah itu lagi.
Sungguh,
abah, bukan kebutuhan biologi benar yang membuat aku terpicu pertanyaan
kedua orangtuaku dan berpikir tentang laki-laki lain untuk menjadi
suami setelah abah. Meski tidak aku pungkiri faktor biologi itu ada.
Tapi dengan memikul tanggung jawab memelihara pesantren tinggalan abah,
aku sungguh memerlukan penopang. Belum banyak ilmu yang sempat aku serap
dari abah. Aku perlu pengayom seperti abah dulu. Aku perlu orang dengan
siapa aku dapat bertukar pikiran. Syukur dapat memberikan nasihat dan
arahan bagi kelangsungan dan perkembangan pesantren kita.
Dalam
pada itu, abah, telingaku yang tersebar di mana-mana, terus mendengar
pembicaraan masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat diam-diam membicarakan
diriku dan pesantren kita. Mereka iba terhadap nasibku dan sekaligus
memprihatinkan pesantren. Mereka sadar bahwa aku masih muda dan di sisi
lain, pesantren kita butuh kiai laki-laki seperti umumnya
pesantren-pesantren yang lain. Mereka, seperti juga aku, terbentur
kepada pertanyaan: siapakah kiai laki-laki itu? Kemudian kudengar mereka
menyepakati kriteria dan syarat-syarat siapa yang boleh mengawiniku.
Mereka
tidak rela kalau aku dipersunting orang ’biasa’ yang tidak selevel
abah. Mana ada orang yang selevel abah mau mendampingiku? Masya Allah,
abah. Apakah karena menjadi jandanya kiai seperti abah, lalu aku hanya
dianggap obyek yang tidak berhak menentukan nasib sendiri?
Setiap
malam aku menangis, abah. Menangis sebagai Nyai yang mendapat warisan
tanggung jawab. Menangis sebagai perempuan dan janda muda yang
kehilangan hak. Tapi aku tetap nyaimu, abah; aku tidak akan menyerah.
Aku percaya kepadaNya.
17 Desember 2011
*) ndalem = sebutan untuk rumah kediaman kiai pesantren
**) air suwuk = air yang didoa-i
Tidak ada komentar:
Posting Komentar