Senin, 19 Januari 2015

JASON MRAZ LYRICS


  "I Won't Give Up"


When I look into your eyes
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?

Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find

'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up

I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up.

Well, I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am tough, I am loved)
We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we're worth it)

I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

Jumat, 16 Januari 2015

TERSENYUMLAH

Terkadang kita dihadapkan dalam beberapa persoalan yang mungkin saat itu kita tidak dapat menyelesaikannya, ada hal yang paling mudah menurut saya untuk menetralisir segalanya dan menurutku "it's work", langkah awal adalah tetaplah tersenyum setidaknya sedikit banyak akan mempengaruhi pikiran kita untuk meredam rasa penat

Kamis, 15 Januari 2015

it's myself








SANDAL JEPIT YANG TERHORMAT

Di sebuah toko sepatu di kawasan
perbelanjaan termewah di sebuah
kota, tampak di etalase sebuah
sepatu dengan anggun diterangi
oleh lampu yang indah. Dari tadi
dia nampak jumawa dengan posisinya, sesekali dia menoleh ke
kiri dan ke kanan untuk
memamerkan kemolekan
desainnya, haknya yang tinggi
dengan warna coklat tua semakin
menambah kemolekan yang dimilikinya.
Pada saat jam istirahat, seorang
pramuniaga yang akan makan
siang meletakkan sepasang sandal
jepit tidak jauh dari letak sang
sepatu. "Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan
sekali saja dalam bentuk buruk
dan tidak menarik", sergah sang
sepatu dengan nada congkak.
Sandal jepit hanya terdiam dan
melemparkan sebuah senyum persahabatan.
"Apa menariknya menjadi sandal
jepit ?, tidak ada kebanggaan
bagi para pemakainya, tidak
pernah mendapatkan tempat
penyimpanan yang istimewa, dan tidak pernah disesali pada saat
hilang, kasihan sekali kamu", ujar
sang sepatu dengan nada yang
semakin tinggi dan bertambah
sinis.
Sandal jepit menarik nafas panjang, sambil menatap sang
sepatu dengan tatapan lembut,
dia berkata "Wahai sepatu yang
terhormat, mungkin semua orang
akan memiliki kebanggaan jika
memakai sepatu yang indah dan mewah sepertimu. Mereka akan
menyimpannya di tempat yang
terjaga, membersihkannya
meskipun masih bersih, bahkan
sekali-sekali memamerkan kepada
sanak keluarga maupun tetangga yang berkunjung ke rumahnya".
Sandal jepit berhenti berbicara
sejenak dan membiarkan sang
sepatu menikmati pujiannya.
"Tetapi sepatu yang terhormat,
kamu hanya menemaninya di didalam kesemuan, pergi ke
kantor maupun ke undangan-
undang an pesta untuk sekedar sebuah kebanggaan. Kamu hanya
dipakai sesekali saja. Beda kan
dengan aku. Aku siap menemani
kemana saja pemakaiku pergi,
bahkan aku sangat loyal meski
dipakai ke toilet ataupun kamar mandi. Aku memunculkan
kerinduan bagi pemakaiku. Setelah
dia seharian dalam cengkeraman
keindahanmu, maka manusia akan
segera merindukanku. Karena apa
wahai sepatu ?. Karena aku memunculkan kenyamanan dan
kelonggaran. Aku tidak
membutuhkan perhatian dan
perawatan yang spesial. Dalam
kamus kehidupanku, jika kita ingin
membuat orang bahagia maka kita harus menciptakan
kenyamanan untuknya", Sandal
jepit berkata dengan antusias
dan membiarkan sang sepatu
terpana.
"Sepatu ! Sahabatku yang terhormat, untuk apa kehebatan
kalau sekedar untuk dipamerkan
dan menimbulkan efek ketakutan
untuk kehilangan. Untuk apa
kepandaian dikeluarkan hanya
untuk sekedar mendapatkan kekaguman." Sepatu mulai tersihir
oleh ucapan sandal jepit. "Tapi
bukankah menyenangkan jika kita
dikagumi banyak orang", jawab
sepatu mencoba mencari
pembenar atas posisinya. Sandal jepit tersenyum dengan bijak
"Sahabatku! ditengah kekaguman
sesungguhnya kita sedang
menciptakan tembok pembeda
yang tebal, semakin kita ingin
dikagumi maka sesungguhnya kita sedang membangun temboknya".
Dari pintu toko nampak sang
pramuniaga tergesa-gesa
mengambil sandal jepit karena
ingin bersegera mengambil air
wudhu. Sambil tersenyum bahagia sandal jepit berbisik kepada sang
sepatu "Lihat sahabatku, bahkan
untuk berbuat kebaikan pun
manusia mengajakku dan
meninggalkanmu" . Sepatu menatap kepergian sandal
jepit ke mushola dengan penuh
kekaguman seraya berbisik
perlahan "Terima kasih, engkau
telah memberikan pelajaran yang
berharga sahabatku, sandal jepit yang terhormat".

MAAFKAN SAYA( Kisah Seorang Polantas)

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Alex segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Alex berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Alex bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Priiiiit……..!...
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Alex menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari KACA SPION ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Sobari, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Alex agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
Hai, Sob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
Hai, Lex.” Tanpa senyum.
Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”
Oh ya?”
Tampaknya Sobari agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.
Sob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”
Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Alex harus ganti STRATEGI.
Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”
Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
Ayo dong Lex. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”
Dengan ketus Alex menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Sobari menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Sobari mengetuk kaca jendela. Alex memandangi wajah Sobari dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit.
Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Sobari kembali ke posnya. Alex mengambil surat tilang yang diselipkan Sobari di sela-sela kaca jendela.

Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Alex membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Sobari.
Halo Alex, Tahukah kamu Lex, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 tahun. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk anak-anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Lex. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Sobari)”.

Alex terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Sobari. Namun, Sobari sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan …….
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Dendam Itu Berubah


SEORANG lelaki yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali.

Setelah dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.

Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya. Kedua, kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu. Ketiga, tidak semua ‘dukun’ salah. Kita juga harus jadi ‘dukun’ kalau sukses belajar yakni ‘duduk dengan tekun’.
Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku mertua yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.

Puncaknya pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si mertua. Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.

Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHULU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.”