If you allow fear to grow bigger than your faith, then you are blocking your dreams come true.
Senin, 26 Januari 2015
Senin, 19 Januari 2015
JASON MRAZ LYRICS
"I Won't Give Up"
When I look into your eyes
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?
Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up
I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up.
Well, I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am tough, I am loved)
We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we're worth it)
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
Jumat, 16 Januari 2015
TERSENYUMLAH
Terkadang kita dihadapkan dalam beberapa persoalan yang mungkin saat itu kita tidak dapat menyelesaikannya, ada hal yang paling mudah menurut saya untuk menetralisir segalanya dan menurutku "it's work", langkah awal adalah tetaplah tersenyum setidaknya sedikit banyak akan mempengaruhi pikiran kita untuk meredam rasa penat
Kamis, 15 Januari 2015
SANDAL JEPIT YANG TERHORMAT
Di sebuah toko sepatu di kawasan
perbelanjaan termewah di sebuah
kota, tampak di etalase sebuah
sepatu dengan anggun diterangi
oleh lampu yang indah. Dari tadi
dia nampak jumawa dengan posisinya, sesekali dia menoleh ke
kiri dan ke kanan untuk
memamerkan kemolekan
desainnya, haknya yang tinggi
dengan warna coklat tua semakin
menambah kemolekan yang dimilikinya.
Pada saat jam istirahat, seorang
pramuniaga yang akan makan
siang meletakkan sepasang sandal
jepit tidak jauh dari letak sang
sepatu. "Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan
sekali saja dalam bentuk buruk
dan tidak menarik", sergah sang
sepatu dengan nada congkak.
Sandal jepit hanya terdiam dan
melemparkan sebuah senyum persahabatan.
"Apa menariknya menjadi sandal
jepit ?, tidak ada kebanggaan
bagi para pemakainya, tidak
pernah mendapatkan tempat
penyimpanan yang istimewa, dan tidak pernah disesali pada saat
hilang, kasihan sekali kamu", ujar
sang sepatu dengan nada yang
semakin tinggi dan bertambah
sinis.
Sandal jepit menarik nafas panjang, sambil menatap sang
sepatu dengan tatapan lembut,
dia berkata "Wahai sepatu yang
terhormat, mungkin semua orang
akan memiliki kebanggaan jika
memakai sepatu yang indah dan mewah sepertimu. Mereka akan
menyimpannya di tempat yang
terjaga, membersihkannya
meskipun masih bersih, bahkan
sekali-sekali memamerkan kepada
sanak keluarga maupun tetangga yang berkunjung ke rumahnya".
Sandal jepit berhenti berbicara
sejenak dan membiarkan sang
sepatu menikmati pujiannya.
"Tetapi sepatu yang terhormat,
kamu hanya menemaninya di didalam kesemuan, pergi ke
kantor maupun ke undangan-
undang an pesta untuk sekedar sebuah kebanggaan. Kamu hanya
dipakai sesekali saja. Beda kan
dengan aku. Aku siap menemani
kemana saja pemakaiku pergi,
bahkan aku sangat loyal meski
dipakai ke toilet ataupun kamar mandi. Aku memunculkan
kerinduan bagi pemakaiku. Setelah
dia seharian dalam cengkeraman
keindahanmu, maka manusia akan
segera merindukanku. Karena apa
wahai sepatu ?. Karena aku memunculkan kenyamanan dan
kelonggaran. Aku tidak
membutuhkan perhatian dan
perawatan yang spesial. Dalam
kamus kehidupanku, jika kita ingin
membuat orang bahagia maka kita harus menciptakan
kenyamanan untuknya", Sandal
jepit berkata dengan antusias
dan membiarkan sang sepatu
terpana.
"Sepatu ! Sahabatku yang terhormat, untuk apa kehebatan
kalau sekedar untuk dipamerkan
dan menimbulkan efek ketakutan
untuk kehilangan. Untuk apa
kepandaian dikeluarkan hanya
untuk sekedar mendapatkan kekaguman." Sepatu mulai tersihir
oleh ucapan sandal jepit. "Tapi
bukankah menyenangkan jika kita
dikagumi banyak orang", jawab
sepatu mencoba mencari
pembenar atas posisinya. Sandal jepit tersenyum dengan bijak
"Sahabatku! ditengah kekaguman
sesungguhnya kita sedang
menciptakan tembok pembeda
yang tebal, semakin kita ingin
dikagumi maka sesungguhnya kita sedang membangun temboknya".
Dari pintu toko nampak sang
pramuniaga tergesa-gesa
mengambil sandal jepit karena
ingin bersegera mengambil air
wudhu. Sambil tersenyum bahagia sandal jepit berbisik kepada sang
sepatu "Lihat sahabatku, bahkan
untuk berbuat kebaikan pun
manusia mengajakku dan
meninggalkanmu" . Sepatu menatap kepergian sandal
jepit ke mushola dengan penuh
kekaguman seraya berbisik
perlahan "Terima kasih, engkau
telah memberikan pelajaran yang
berharga sahabatku, sandal jepit yang terhormat".
perbelanjaan termewah di sebuah
kota, tampak di etalase sebuah
sepatu dengan anggun diterangi
oleh lampu yang indah. Dari tadi
dia nampak jumawa dengan posisinya, sesekali dia menoleh ke
kiri dan ke kanan untuk
memamerkan kemolekan
desainnya, haknya yang tinggi
dengan warna coklat tua semakin
menambah kemolekan yang dimilikinya.
Pada saat jam istirahat, seorang
pramuniaga yang akan makan
siang meletakkan sepasang sandal
jepit tidak jauh dari letak sang
sepatu. "Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan
sekali saja dalam bentuk buruk
dan tidak menarik", sergah sang
sepatu dengan nada congkak.
Sandal jepit hanya terdiam dan
melemparkan sebuah senyum persahabatan.
"Apa menariknya menjadi sandal
jepit ?, tidak ada kebanggaan
bagi para pemakainya, tidak
pernah mendapatkan tempat
penyimpanan yang istimewa, dan tidak pernah disesali pada saat
hilang, kasihan sekali kamu", ujar
sang sepatu dengan nada yang
semakin tinggi dan bertambah
sinis.
Sandal jepit menarik nafas panjang, sambil menatap sang
sepatu dengan tatapan lembut,
dia berkata "Wahai sepatu yang
terhormat, mungkin semua orang
akan memiliki kebanggaan jika
memakai sepatu yang indah dan mewah sepertimu. Mereka akan
menyimpannya di tempat yang
terjaga, membersihkannya
meskipun masih bersih, bahkan
sekali-sekali memamerkan kepada
sanak keluarga maupun tetangga yang berkunjung ke rumahnya".
Sandal jepit berhenti berbicara
sejenak dan membiarkan sang
sepatu menikmati pujiannya.
"Tetapi sepatu yang terhormat,
kamu hanya menemaninya di didalam kesemuan, pergi ke
kantor maupun ke undangan-
undang an pesta untuk sekedar sebuah kebanggaan. Kamu hanya
dipakai sesekali saja. Beda kan
dengan aku. Aku siap menemani
kemana saja pemakaiku pergi,
bahkan aku sangat loyal meski
dipakai ke toilet ataupun kamar mandi. Aku memunculkan
kerinduan bagi pemakaiku. Setelah
dia seharian dalam cengkeraman
keindahanmu, maka manusia akan
segera merindukanku. Karena apa
wahai sepatu ?. Karena aku memunculkan kenyamanan dan
kelonggaran. Aku tidak
membutuhkan perhatian dan
perawatan yang spesial. Dalam
kamus kehidupanku, jika kita ingin
membuat orang bahagia maka kita harus menciptakan
kenyamanan untuknya", Sandal
jepit berkata dengan antusias
dan membiarkan sang sepatu
terpana.
"Sepatu ! Sahabatku yang terhormat, untuk apa kehebatan
kalau sekedar untuk dipamerkan
dan menimbulkan efek ketakutan
untuk kehilangan. Untuk apa
kepandaian dikeluarkan hanya
untuk sekedar mendapatkan kekaguman." Sepatu mulai tersihir
oleh ucapan sandal jepit. "Tapi
bukankah menyenangkan jika kita
dikagumi banyak orang", jawab
sepatu mencoba mencari
pembenar atas posisinya. Sandal jepit tersenyum dengan bijak
"Sahabatku! ditengah kekaguman
sesungguhnya kita sedang
menciptakan tembok pembeda
yang tebal, semakin kita ingin
dikagumi maka sesungguhnya kita sedang membangun temboknya".
Dari pintu toko nampak sang
pramuniaga tergesa-gesa
mengambil sandal jepit karena
ingin bersegera mengambil air
wudhu. Sambil tersenyum bahagia sandal jepit berbisik kepada sang
sepatu "Lihat sahabatku, bahkan
untuk berbuat kebaikan pun
manusia mengajakku dan
meninggalkanmu" . Sepatu menatap kepergian sandal
jepit ke mushola dengan penuh
kekaguman seraya berbisik
perlahan "Terima kasih, engkau
telah memberikan pelajaran yang
berharga sahabatku, sandal jepit yang terhormat".
MAAFKAN SAYA( Kisah Seorang Polantas)
Priiiiit……..!...
Di
seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti.
Alex menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati.
Dari KACA SPION ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu
asing.
Hey,
itu khan Sobari, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Alex agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai,
Sob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai,
Lex.” Tanpa senyum.
“Duh,
sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri
saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh
ya?”
Tampaknya
Sobari agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.
“Sob,
hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan
segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya
mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi
lampu merah di persimpangan ini.”
Oooo,
sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Alex harus ganti STRATEGI.
“Jadi,
kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.
Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”
Aha,
terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
Dengan
ketus Alex menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup
kaca jendelanya. Sementara Sobari menulis sesuatu di buku tilangnya.
Beberapa saat kemudian Sobari mengetuk kaca jendela. Alex memandangi
wajah Sobari dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit.
Ah,
lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa
berkata-kata Sobari kembali ke posnya. Alex mengambil surat tilang
yang diselipkan Sobari di sela-sela kaca jendela.
Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Alex membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Sobari.
Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Alex membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Sobari.
“Halo
Alex, Tahukah kamu Lex, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan.
Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos
lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 tahun. Begitu
bebas, ia bisa bertemu dan memeluk anak-anaknya lagi. Sedangkan anak
kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap
agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya.
Begitu juga kali ini. Maafkan aku Lex. Doakan agar permohonan kami
terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Sobari)”.
Alex terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Sobari. Namun, Sobari sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan …….
Alex terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Sobari. Namun, Sobari sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan …….
Tak
selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain.
Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat
berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.
Dendam Itu Berubah
SEORANG lelaki yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibu mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, dan angkuh sekali.
Setelah dua tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.
Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si mertua supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada mertuanya.
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya. Kedua, kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu. Ketiga, tidak semua ‘dukun’ salah. Kita juga harus jadi ‘dukun’ kalau sukses belajar yakni ‘duduk dengan tekun’.Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku mertua yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
Puncaknya pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si mertua. Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.
Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHULU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.”
Rabu, 14 Januari 2015
Tags: cerita motivasi (1200), cerita islami (261), cerita hikmah (104), cerita nasehat (313), cerita teladan (334), kumpulan cerita motivasi (203), kisah islami(247), kisah teladan (331), kisah hikmah (110), kumpulan kisah teladan (263), artikel motivasi (2011), artikel islam (105), artikel kesehatan (211), kumpulan artikel motivasi (300), berita islami (2012), motivasi islam (2010),artikel kesehatan (500)
Cerita Renungan Tentang IBU
Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. "Alhamdulillah, kamu sudah pulang" itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.
Ba'da
Ashar, "Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih". Gegas saya
angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya.
"Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja" pikir saya
"Eh,tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram". Sebuah ember
putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya
memindahkannya ke
halaman
depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur
dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.
"Nak, Ibu
ba ru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah"
pinta Ibu. "Eh,bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas saya memandang
Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta
bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok
wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari
ziarah. "Neng.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. "Bu,
siapa itu...?" tanya saya. "Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang"
pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka
mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah
tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari biasanya.
Dan, semua
pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya membaca al-qur'an
selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari
kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur'an. Dan
mata ini memandang lekat pada jemarinya. Ke riput, urat-uratnya menonjol
jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar.
Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di
kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang,
karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal? "Dingin"
bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu
masih terus mengaji, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya
memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak
berhingga.
Adzan isya berkumandang,
Ibu berdiri
di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara
mushala kecil rumah. Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan
seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yang terus bergetar. "Duh
Allah, sayangi Mamah" spontan saya memohon. "Neng..." suara ibu
membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya,
kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan
menciumnya.
"Tangan ibu
kenapa?" tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum manis
sekali. "Penyakit orang tua. Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan
yang ringan-ringan saja, irit tenaga" tambahnya.
Udara
semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan
langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah.
Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh.
Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat
isya tadi.
Apa
maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang
dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit,
sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang
selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya
tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut
ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya ber gemuruh.
Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian
yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita
berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil
yang katanya biar saya lebih semangat belajar.
Sewaktu
saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya,
suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya
mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m
nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung.
Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri.
Ada sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung :
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau ada lah Sinopsis semesta
Itu saja...
Tangan
ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah
buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah
perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan ..
Pernahkah
ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk
sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan
anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup?
Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat
tidur kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan
tangannya? Pernahkah..?
Ketika akan
meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya "Bu, ikutlah ke
jakarta, biar dekat dengan anak-anak". "Ah, Allah lebih perkasa di
banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang
seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang" Jawabannya ringan. Tak
ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih
pasrah,
menyerahkan
semua kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali
punggung tangannya, selagi sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang
pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya
masih ada tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh
takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di
kening.
*IBUMU adalah Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan bliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan*
Kasih Sayang Seorang Ayah
Seorang
gadis yang sangat cantik, tinggi dan berkulit putih, dia bernama dina.
Dia tinggal sebuah daerah yaitu SIDAYU. Dia tinggal bersama mamanya dan
ayah tirinya.Dina adalah anak yang lemah lembut, tapi, sejak ayah dan ibunya berpisah, Dia menjadi anak yang nakal, dan tidak punya sopan santun. Dina memilih tinggal bersama mama nya, sejak itu lah, hubungan Dina dengan ayahnya mulai berkurang. Dina yang tidak diperbolehkan mamanya berhubungan lagi dengan ayahnya.
Suatu ketika, ayah nya menelfon Dina karena ayahnya kangen sama dina, tapi sayangnya dina menjawab telfon dengan suara yang keras dan tidak sopan santun.
“ ngapain kamu nelfon aku ?, aku bukan anak mu lagi”
“ ini aku ayahmu nak, ayah kandung kamu”. Dengan sabar ayahnya menjawab dengan perlahan, ayahnya tidak mau Dina semakin benci sama ayahnya. Pada saat itu Dina langsung mematikan hp nya, Dina hanya berbicara baik kepada ayahnya kalau Dia lagi membutuhkan uangnya.
Semua temannya banyak yang memberi nasehat kepada Dina, agar lebih sopan pada ayahnya, semua temannya sangatlah prihatin kepada Dina dengan sikapnya tersebut.
“Dina, itu ayah kandung kamu, kamu tidak sepantasnya berbicara kasar seperti itu, meskipun ayah mu sudah bercerai degna mama mu, bukan berarti dia bukan ayah kamu lagi din.”. kata temannya
“ tau apa sih kamu tentang keluarga aku, kamu itu sok tau ya, jadi orang jangan sok tau deh, urus aja sana keluarga kamu, udah benar apa belum.” Jawab Dina dengan wajah marah
Mama nya Dina telah salah mendidik anaknya, karena Dina menjadi benci kepada ayahnya karena mama nya yang tidak memperboleh kan Dina untuk berhubungan lagi dengan ayahnya.
Suatu ketika, Dina kehabisan uang dan tidak berani meminta mama nya, dan akhirnya Dina pun menelfon ayahnya untuk segera mengirimkan uang secepatnya.
“ayah, ayah sekarang ada dimana ?, Dina lagi butuh banget nih sama ayah” ucap Dina.
“iya nak ada apa ??”. jawab ayah dengan tersenyum bahagia karena mendengar perkataan dina yang sangat sopan kepada ayah nya.
“ayah, aku lagi butuh uang sekarang nih yah, ayah mau tidak kirim uang ditabungan aku sekarang ?”. tanya Dina
Ayahnya yang mendengar Dina membutuhka uang, ayahnya tidak berfikir dua kali lagi. Dan ayahnya yang tidak mau Dina kesulitan, pada saat itu juga Ayahnya langsung mengirim uang pada tabungan Dina. Ayahnya sangat lah sayang pada Dina, meskipun ayahnya diperlakukan seperti itu sama Dina, tapi ayahnya masih sabar dan masih sayang pada Dina.
Dina yang memilih ikut dengan mamanya dan ayah tirinya, dan Dia sekarang memilih lebih patuh terhadap ayah tirinya, meskipun ayah tirinya tersebut tidak sebegitu sayang terhadap Dina. Ayah tirinya telah memiliki dua anak yang masih kecil. Dina sangat tidak sadar bahwa yang telah dia pillih adalah salah. Ayah tirinya memang baik, karena ayah nya kaya raya, jadi Dina bisa membeli barang apa saja yg dia mau.
Mama nya yang pernah bilang pada Dina “ jangan pernah menerima uang atau pun barang dari ayah mu yang dulu, orang yang pantas kamu panggil ayah adalah ayah yang sekarang”. Kata mamanya. Dina yang pada saat itu baru memasuki masa remajanya, dan sifatnya masih kekanak-kanakan, dia selalu menuruti apa kata mamanya, karena dia sangat takut pada mamanya.
“mama, kenapa aku harus membenci ayah aku ?” tanya Dina pada mamanya.
“ayah kamu itu tidak pantas untuk kamu nak, dia ayah yang sangat jahat” jawab mama.
Dina yang teringat pada masa kecil nya dulu, ayah lha yang mengajari dia menaiki sepeda, sehingga dia bisa menaiki sepeda, ayah yang selalu tegas dalam hal apa pun. Tapi Dina selalu berfikir bahwa ayah nya adalah orang yang jahat, yang tega meninggalkan Dina dan mama nya. Dina pernah mengirim sebuah pesan kecil kepada ayahnya, “kamu ayah yang jahat, yang tega meninggalkan Dina dan mama”.
Dina yang tidak tau mana yg benar dan mana yang salah, dina selalu mengirim pesan kepada ayah nya dengan tulisan “AYAH JAHAT” , tapi ayahnya selalu tegar dalam menghadapi sikap Dina, ayahnya selalu mengirim pesan, menelfon Dina setiap saat, selagi ayah nya bisa, meskipun dengan balasan yang tidak seharusnya diterima oleh ayah, dengan kata-kata kasar.
Dina yang sekarang menjadi anak remaja, dina selau pergi dengan teman-temannya sampai larut malam, meskipun ayah nya tidak satu rumah sama Dina, tapi ayah Dina selalu memantau keadaan Dina. Ayahnya yang pernah melihat dina keluar malam, ayah nya langsung mengirim pesan kepada Dina, dengan kalimat-kalimat nasehat.
“nak, kamu seorang perempuan, tidak sepantas nya kamu keluar malam kaya gitu nak”. Kata ayah
“tau apa sih kamu tentang aku, mama aku aja gak melarang sama sekali, dasar orang tua, ikut campur urusan anak remaja aja” jawab Dina dengan nada yang kasar.
Nasehat dari ayah tersebut, Dina menganggap bahwa itu adalah nasehat yang tidak penting, yang tidak untuk diperdengar. Dina merasa terganggu dengan nasehat-nasehat dari ayahnya.
Pada suatu ketika ayah nya yang sedang tidak punya uang, tiba-tiba Dina meminta uang pada ayahnya, Dina yang memaksa ayah nya untuk mengasih dia uang, tapi ayah nya hanya bisa diam dan tersenyum melihat tingkah laku Dina. Dina akhirnya marah dan mengucapkan kata-kata yanng sangat menyakiti ayah nya.
“KURANG AJAR, APA SIH SUSAHNYA NGASIH UANG, DASAR !!”
Ayahnya yang mendengar ucapan Dina tersebut, hanya bisa diam, seorang ayah tidak mungkin meneteskan air matanya, tapi dalam hatinya, ayah menagis menjerit, melihat tingkah laku anaknya seperti itu. Dina yang melihat ayahnya seperti itu bukannya meminta maaf, tapi dia malah langsung pergi dan memaki-maki ayahnya.
Dina langsung pulang kerumah mamanya, “ kamu dari mana aja dina?”. Tanya mamanya
“ baru pulang dari rumah teman ma, habis kerja kelompok”. Jawab dina dengan perkataan yang gugup. Mama Dina yang pada saat itu berpura-pura percaya pada Dina, padahal mamanya curiga dengan gerak-gerik Dina yang aneh. Mamanya yang harus sering-sering memantau Dina karena kecurigaan nya tersebut. Tapi, Dina mengetahui bahwa mamanya hanyalah berpura-pura percaya pada Dina. Dina sangatlah berhati-hati ketika bepergian kemana-mana.
Dina yang pada saat itu mau keluar malam, tiba-tiba didepan pintu ada seorang wanita yang berdiri, dan itu ternyata mamanya sendiri. Mamanya menanyai kemana Dina mau pergi. “ kamu mau pergi kemanan ?”. tanya mamanya
“ aku mau pergi jalan-jalan sama teman-teman ma, emangnya kenapa ma ?”. tanya kembali
“ kamu beneran mau pergi sama teman-teman kamu ?, kamu tidak pergi sama ayah mu yang jahat itu kan ?”.
“ gak lha ma, aku gak mungkin mau pergi sama orang itu lagi “. Jawab dina.
Mendengar perkataan dari Dina, mamanya merasa lega dan memperbolehkan Dina untuk keluar malam. Mamanya hanya berpesan pada Dina agar tidak pulang malam-malam.
Tapi, Dina pergi kerumah ayahnya untuk meminta uang buat pergi jalan-jalan sama teman-teman nya. Dina yang tidak diperbolehkan ayahnya buat keluar malam, karena takut Dina tersesat dengan pergaulan bebas. Dina memarahi ayahnya yang melarangnya buat keluar malam.
“Lo kira aku ini nenek-nenek apa ?, aku ini anak remaja, butuh hiburan malam ya.” Ucap Dina
“ tapi, itu tidak baik buat amu nak, ayah sangat khawatir dengan keadaan kamu nak”. Jawab ayahnya
“ udah deh, aku kesini Cuma minta uang, kenapa harus mendengar ceramah-ceramah yang tidak penting ini, bosen tau mendengar ceramah-ceramah kamu, kalau tidak punya uang bilang saja, aku gak an minta kok”. Jawab Dina sambil meninggalkan rumah ayahnya.
Dina yang berharap ayahnya memanggil namanya dan mengasih uang, tapi, tidak tepat dengan harapan Dina. Ayahnya malah tersenyum melihat Dina seperti itu. Dina melihat ayahnya tersenyum, semakin marah Dina terhadap ayahnya.
Dina akhirnya pergi malam untuk jalan-jalan dan bersenang-senang dengan teman-temannya. pada saat Dina pulang, ternyata mamanya mengetahui bahwa Dina malam itu pergi ke rumah ayah kandung nya, mamanya sangat marah dan menatap Dina dengan raut wajah yang sangat kejam.
“ kamu dari mana aja ?”. tanya mamanya.
“ aku habis jalan-jalan ma sama teman-teman aku, ada apa sih ma, kok kayaknya curiga banget sama aku ..?” kata Dinda
“ kamu jawab yang jujur, kamu pergi kemana aja ?, apakah kamu ke rumah ayah mu yang jahat itu ??, mama kan udah pernah bilang, jangan berhubungan lagi sama laki-laki itu, laki-laki itu bukan lagi ayah kamu, kamu ngerti gak sih Din ?, jawab yang jujur?”. Tanya mamanya dengan suara yang keras dan kasar
“ iya ma, aku tadi pergi kerumah ayah, tapi aku Cuma minta uang sama dia ma, aku gak bakal ulangin lagi kok ma perbuatan itu”. Jawab Dina.
Mamanya yang hampir menampar pipi Dina, tapi ditahan dengan ayah kandungnya Dina, mamanya kaget melihat kedatangan ayahnya. Dina langdung memeluk ayahnya karena takut dengan mamanya.
“ kamu tidak pantas menampar Dina, dia anak yang tidak punya dosa, dia tidak punya salah apa-apa, kenapa kamu melarang Dina untuk berhubungan dengan aku lagi, aku ini ayah kandungnya??”. Tanya ayahnya kepada mamanya Dina.
Mamanya hanya bisa diam mendengar perkataan itu, dan tidak bisa menjawab dengan satu kata pun.
Dan akhirnya Dina menyadari bahwa ayahnya adalah orang yang sangat baik terhadap Dina, Dina meminta maaf kepada ayahnya, Dina menyesali dengan perbuatanya tersebut, dan Dina akhirnya memilih untuk tinggal bersama ayahnya. Meskipun Dina tinggal bersama ayahnya, tapi, ayahnya tidak pernah melarang Dina untuk bertemu sama mama nya, karena menurut ayahnya, tidak ada kata mantan buat orang tua, dan tidak ada yang bisa menggantikan kebaikan kedua orang tua. Meraka saling berhubungan satu sama lain.
Dina hidup bahagia melihat mama dan ayahnya sudah baikan, meskipun tidak untuk kembali berkeluarga, karena mamanya Dina sudah mempunyai keluarga baru. Yang di inginkan Dina hanya ingin melihat mama dan ayahnya bahagia. Dina selalu menyesali apa yang pernah diperbuat kepada ayahnya, dan tidak ada yang bisa menggantikan ayah kandung nya lagi.
Selasa, 13 Januari 2015
Nyai Sobir
"Ribuan
bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu,
tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.
Mereka
semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang
famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri
yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.
Almarhum
sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya milik mereka
para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke mesjid yang sudah
penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah sadar mengikuti
upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat almarhum, yang memberi
sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai dari berbagai daerah
memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis siapa-siapa mereka. Aku hanya
asal mengamini.
Hari
berikutnya dan berikutnya, banjir jama’ah laki-laki perempuan tak susut
meluapi makam dan mesjid pesantren kami. Alunan tahlil dan doa seolah
tak pernah putus dari pagi hingga malam hari. Mereka meratapi kepergian
almarhum yang selama ini mereka anggap guru dan bapak. Sandaran mereka.
***
Kiai
Sobir atau yang popular dipanggil Mbah Sobir adalah sesepuh dalam arti
yang sebenarnya di wilayah kabupaten kami dan sekitarnya. Di samping
mengasuh pesantren dengan ratusan santri laki-laki perempuan, beliau
secara de facto juga mengasuh dan melayani ribuan ’santri kalong’.
Mereka yang tidak tinggal menetap di pesantren, tapi selalu datang untuk
mengikuti pengajian rutin beliau atau yang sekadar sowan dengan
berbagai keperluan. Belum lagi mereka yang datang dari tempat-tempat
yang jauh. Bahkan banyak sekali pejabat dari tingkat propinsi dan pusat
yang menyempatkan diri sowan kiai sepuh yang sederhana ini.
Dalam hal menerima tamu, pastilah tak ada yang dapat menandingi Kiai Sobir. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam, ndalem*)
beliau tak pernah sepi dari tamu, baik yang datang perorangan
atau—kebanyakan—berombongan. Bahkan tidak jarang rombongan tamu datang
tengah malam. Dan ’peraturannya’, setiap tamu yang datang harus makan.
Ruang tamu ndalem beliau
yang sederhana, didominasi oleh dua bale-bale besar dari bambu dialasi
tikar pandan. Ada bangku memanjang tempat Mbah Sobir duduk dan—biasanya
dengan—kiai atau tamu sepuh yang diajak duduk bersama beliau. Di
depannya ada meja kuno yang selalu penuh dengan makanan, dikelilingi
beberapa kursi yang tidak seragam. Di atas dua bale-bale besar itulah
biasanya santri-santri ndalem dengan sigap mengatur hidangan untuk makan para tamu.
Kiai
Sobir tidak membedakan siapa-siapa yang datang kepada beliau. Siapa pun
tamunya, pejabat tinggi atau rakyat jelata; laki-laki atau perempuan;
dari kalangan santri atau tidak; beliau terima dengan gembira dan penuh
penghormatan. Telinga beliau dengan sabar menampung segala keluhan,
curahan hati, bahkan bualan tamu-tamunya yang beragam. Di hadapan
beliau, semua orang merasa benar-benar menjadi manusia yang merdeka.
Manusia yang dimanusiakan.
Maka
mereka pun tak segan-segan mengutarakan keperluan-keperluan mereka.
Mulai dari mengundang ceramah, hingga mengundang untuk peletakan batu
pertama pembangunan mesjid atau madrasah. Mulai dari minta doa restu,
hingga minta utangan. Dari minta air suwuk**)
untuk anak yang rewel, hingga minta nasihat perkawinan. Dari minta
dicarikan jodoh, hingga minta dicarikan mantu. Dari minta arahan
menggarap sawah, hingga minta dukungan untuk pilkada. Dari minta fatwa
keagamaan, hingga minta bantuan kenaikan pangkat .
Maka tak heran bila kepergian Kiai Sobir mendapat perhatian yang begitu luas.
***
Semua
perhatian hanya tertuju kepada almarhum bahkan sampai peringatan wafat
beliau yang ke-40. Empati hanya tertuju kepada mereka sendiri yang
merasa kehilangan Kiai Sobir. Aku terlupakan sama sekali. Aku adalah
istri almarhum yang selama ini mereka panggil Nyai Sobir. Perempuan yang
kemarin-kemarin juga mereka perhatikan dan hormati bersama almarhum.
Perempuan yang mendampingi beliau sejak nyai sepuh wafat hingga akhir
hayat beliau.
Akulah
yang selama ini mengatur keperluan-keperluan pribadi abah (begitu aku
selalu memanggil beliau) sehari-hari; mulai potong rambut hingga pakaian
yang abah kenakan. Akulah yang mengatur jadwal abah; kapan mendatangi
undangan-undangan dan kapan mesti istirahat. Akulah juga yang mengatur
agar mereka yang sowan tidak ada yang terlantar. Semua harus disuguh
makan seperti yang dikehendaki abah.
Peringatan
40 hari wafat almarhum abah, banjir manusia kembali meluapi kawasan
pesantren kami. Setelah itu barulah pengunjung yang berziarah agak
menyusut. Aku tidak tahu apakah orang-orang mulai mengingatku sebagai
Nyai Sobir pendamping kiai mereka atau tidak; yang jelas aku sendiri
teringat saat nyai sepuh, istri abah yang pertama wafat. Teringat
beberapa bulan kemudian aku yang kala itu nyantri di pesantren abah dan
baru berumur 20 tahun, dipinang abah melalui seorang tokoh masyarakat di
desaku.
Ketika
kemudian orangtuaku—yang juga termasuk santri kiai abah—menyampaikan
pinangan itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaanku campur aduk tidak
karuan. Kaget, tidak percaya, bangga, dan entah apa lagi. Tapi karena
kedua orangtuaku sepertinya mendukung, aku pun akhirnya ikut saja
seperti kerbau dicocok hidung. Walhasil jadilah aku Nyai Sobir. Istri
seorang kiai besar yang dihormati tidak hanya di wilayah kota kami saja.
Kiai yang bila ada pembesar datang dari ibu kota, tidak pernah
terlewatkan dikunjungi dengan segala penghormatan.
Sebagai
pendamping kiai sekaliber abah, aku mempunyai sedikit modal. Di samping
berwajah lumayan, aku hafal Al-Quran dan di pesantren bagian puteri,
aku menjabat sebagai pengurus inti. Ditambah lagi, berkat latihan setiap
malam Selasa di pesantren, aku sedikit bisa berpidato. Maka tidak lama,
aku sudah benar-benar bisa menyesuaikan diri. Masyarakat pun tampaknya
sudah benar-benar memandangku sebagai nyai yang pantas mendampingi Kiai
Sobir. Bahkan sesekali aku diminta panitia mewakili abah mengisi
pengajian.
Dari
sisi lain; perasaanku terhadap abah yang semula lebih kepada
menghormati, berangsur menjadi menyintai beliau. Apalagi abah begitu
baik dan bijaksana sikapnya terhadap diriku yang dari segi umur terpaut
sangat jauh. Abah tahu bahwa aku masih muda dengan pikiran dan
keinginan-keinginan anak muda. Abah tidak pernah melarangku misalnya
melihat televisi atau mendengar lagu-lagu dari radio. Paling-paling
beliau hanya mengingatkan supaya aku tidak melupakan tugas-tugas.
Peringatan
100 hari wafat abah, kemudian 1 tahun, kemudian peringatan haul beliau
setiap tahun (sekarang sudah haul yang ke 7), terus ramai dibanjiri
ribuan orang dari berbagai penjuru. Aku terlupakan atau tidak oleh
mereka. Tapi aku benar-benar terus merasa sendirian.
***
Abah,
apakah di sana abah masih memperhatikanku seperti dulu? Aku kini
benar-benar sendirian, abah. Sendirian. Alangkah cepatnya waktu.
Alangkah singkatnya kebersamaan kita. Kini tak ada laki-laki yang kuurus
sehari-hari. Tidak ada orang yang selalu memperhatikanku, yang
menasihati dan memarahiku. Dan persis seperti kata Titik Puspa dalam
salah satu tembangnya. Tidak ada lagi tempat bermanja.
Aku
mencoba sebisaku ikut mengurus pesantren tinggalan abah. Alhamdulillah
ustadz-ustadz yang gede-gede masih setia mengajar di madrasah dan
pesantren kita. Pengurus pesantren juga masih menganggap aku Nyai mereka
dan mereka taati seperti saat abah masih hidup.
Ah,
semuanya seperti berjalan biasa-biasa saja, abah. Hanya setiap malam
ketika aku sendirian, aku selalu teringat abah. Pedih rasanya tak
mempunyai kawan berbincang yang seperti abah; yang setia mendengarkan
celotehku meski sepele, yang siap membantu memecahkan masalah yang aku
lontarkan. Oh, abah. Kini aku mempunyai masalah besar dan abah tak ada
di sampingku.
Orang
mulai memperhatikanku. Tapi tidak seperti perhatian mereka saat abah
masih ada. Kini mereka memperhatikanku sebagai janda muda. Baru setahun
abah meninggalkan kami, sudah ada saja godaan yang harus aku hadapi.
Seorang ustadz yang sudah mempunyai dua orang istri, terang-terangan
melamar aku. Lalu seorang duda kaya mengirimkan proposal lamaran,
lengkap dengan CV-nya. Belakangan seorang perwira polisi bujangan juga
menyampaikan keinginannya yang serius mempersunting aku. Semuanya aku
tolak dengan halus.
Kemudian
kedua orangtuaku sendiri dengan hati-hati menanyakan kepadaku apakah
aku memang sudah ingin menyudahi status jandaku. Ingin didampingi oleh
seorang suami. Namun ketika aku tanya ”Kawin dengan siapa?” kedua
orangtuaku tidak bisa menjawab. Dan sejak itu mereka tidak pernah
menyinggung-nyinggung masalah itu lagi.
Sungguh,
abah, bukan kebutuhan biologi benar yang membuat aku terpicu pertanyaan
kedua orangtuaku dan berpikir tentang laki-laki lain untuk menjadi
suami setelah abah. Meski tidak aku pungkiri faktor biologi itu ada.
Tapi dengan memikul tanggung jawab memelihara pesantren tinggalan abah,
aku sungguh memerlukan penopang. Belum banyak ilmu yang sempat aku serap
dari abah. Aku perlu pengayom seperti abah dulu. Aku perlu orang dengan
siapa aku dapat bertukar pikiran. Syukur dapat memberikan nasihat dan
arahan bagi kelangsungan dan perkembangan pesantren kita.
Dalam
pada itu, abah, telingaku yang tersebar di mana-mana, terus mendengar
pembicaraan masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat diam-diam membicarakan
diriku dan pesantren kita. Mereka iba terhadap nasibku dan sekaligus
memprihatinkan pesantren. Mereka sadar bahwa aku masih muda dan di sisi
lain, pesantren kita butuh kiai laki-laki seperti umumnya
pesantren-pesantren yang lain. Mereka, seperti juga aku, terbentur
kepada pertanyaan: siapakah kiai laki-laki itu? Kemudian kudengar mereka
menyepakati kriteria dan syarat-syarat siapa yang boleh mengawiniku.
Mereka
tidak rela kalau aku dipersunting orang ’biasa’ yang tidak selevel
abah. Mana ada orang yang selevel abah mau mendampingiku? Masya Allah,
abah. Apakah karena menjadi jandanya kiai seperti abah, lalu aku hanya
dianggap obyek yang tidak berhak menentukan nasib sendiri?
Setiap
malam aku menangis, abah. Menangis sebagai Nyai yang mendapat warisan
tanggung jawab. Menangis sebagai perempuan dan janda muda yang
kehilangan hak. Tapi aku tetap nyaimu, abah; aku tidak akan menyerah.
Aku percaya kepadaNya.
17 Desember 2011
*) ndalem = sebutan untuk rumah kediaman kiai pesantren
**) air suwuk = air yang didoa-i
Mayat Yang Mengambang Di Danau
Barnabas
mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan, saat angin
dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan, sangat amat
pelan, nyaris seperti berbisik, menyampaikan segenap rahasia yang bagai
tidak akan pernah terungkapkan.
Memang hanya langit, hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu Barnabas,
karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang pohon ke
bawah permukaan danau untuk menombak ikan, secercah cahaya pun cukuplah
untuk melihat segala sesuatu yang bergerak, hanya bergerak, tiada lain
selain bergerak, ketika hanya dengan sudut matanya pun ia tahu mana
bukan ikan gabus mana bukan ikan merah. Ya, tangannya hanya akan
bergerak menombak secepat kilat bagaikan tak menunggu perintah otak,
apabila kedua jenis ikan itu lewat meski melesat, berombongan maupun
terpisah dan tersesat, yang mana pun takkan lepas dari sambaran
tombaknya yang sebat.
Kacamata
yang digunakannya untuk menyelam memang sudah terlalu tua dan agak
kabur jika digunakan untuk melihat dalam keremangan, yang kali ini
tampaknya masih akan bertahan cukup lama, karena langit mendung dan mega
hitam bergumpal-gumpal. Dari dalam air, tanpa harus melirik ke
permukaan, tahulah Barnabas hujan rintik telah menitik di seluruh
permukaan danau. Namun apalah artinya hujan rintik-rintik bagi seseorang
yang menyelam dan memburu ikan, bukan? Barnabas terus berenang di dalam
air nyaris seperti ikan, memburu ikan, tanpa ikan-ikan itu harus tahu
betapa jiwanya sedang terancam. Tentu ia mengenal ikan seperti mengenal
dirinya sendiri.
Ikan-ikan tak berotak, pikirnya, pantaslah begitu mudah ditombak.
Namun Barnabas juga tahu, justru karena otak ikan sangat amat kecil,
sehingga tidak mencukupi untuk berpikir, naluri ikan terhadap bahaya
bekerja dengan kepekaan tinggi. Jadi Barnabas pun tetap harus menipunya.
Makanya ia pun berenang seperti ikan, mengapung seperti kayu, menyelam
seperti pemberat—dan sekali tangannya bergerak, memang harus melesatkan
tombaknya lebih cepat dari bekerjanya naluri ikan. Ia telah
memperhatikan, betapa ikan dalam rombongan akan lebih kurang
berhati-hati daripada ikan yang berenang sendirian, mungkin karena
merasa aman bersama banyak ikan, sehingga memang tak sadar bahaya
mengancam.
Ikan yang terlepas dari rombongan dan kebingungan kadang lebih menarik
perhatian Barnabas. Ia suka mengintai dan mengincarnya dengan hati-hati,
kadang tanpa kentara memojokkannya, untuk pada saat yang tepat
menombaknya tanpa ikan itu sempat mengelak.
Ikan merah artinya ikan gabus merah, sedap jika dibakar. Ikan gabus
artinya ikan khahabei, besarnya bisa sebesar betis, persembahan bagi
ibu-ibu yang baru melahirkan, tak kalah sedap digoreng, tetapi Barnabas
beranggapan minyak goreng bukanlah bagian dari kehidupannya, karena
memang tak pernah membelinya. Bahkan Barnabas tak pernah lagi makan ikan
yang diburunya itu. Jika langit yang keungu-unguan itu telah menjadi
lebih terang, setidaknya dua puluh sampai tiga puluh ikan yang bernasib
malang di tangannya sudah tergantung di salah satu tiang dermaga. Jumlah
yang cukup guna menyambung hidup untuk sehari, dua hari, tiga hari,
seminggu, tak penting benar berapa lama, karena Barnabas setiap harinya
menyelam jua—kecuali, tentu kecuali, pada hari Minggu, karena pada hari
itu Barnabas beribadah.
Pada hari apa pun ikan-ikan tidak beribadah, pikirnya lagi, jadi ke manakah mereka pergi hari ini?
Bukanlah karena hujan maka ikan-ikan tidak terlihat, mungkin juga tiada
sebab apa pun selain sedang berombongan mencari makan di tempat lain
dengan moncongnya yang tak habis bergerak memamah-mamah. Namun tetap
saja Barnabas merasa jengkel karena ini membuatnya terpaksa memburu ikan
lebih lama. Ia memang tak suka memasang bubu dan tak juga suka memasang
jala seperti banyak orang lainnya di pulau-pulau di dalam danau, karena
memasang bubu bukanlah berburu dan memasang jala juga bukanlah berburu,
sedangkan ia hanya ingin jadi pemburu ikan dan tiada lain selain
berburu ikan seperti yang selama ini dianggapnya sebagai panggilan.
Ada orang ingin jadi pendeta, pikirnya pula, aku ingin jadi pemburu ikan.
Dari masa kecil diketahuinya orang-orang menyelam tanpa kacamata dan
bahkan bisa mendapatkan ikan lebih banyak darinya sekarang. Mungkinkah
air danau dahulu tidak seperti air danau sekarang? Lebih jernih karena
memang lebih bersih dan mata penyelam tak harus menjadi pedas meskipun
menyelam berlama-lama?
Barnabas tentu ingat betapa pada masa lalu di danau itu segala sesuatunya tidaklah sama dengan sekarang.
Dulu tidak ada raungan Johnson, pikir Barnabas, karena perahu bolotu
tidak bermesin tempel. Dari pulau ke pulau, atau dari pulau ke daratan,
orang-orang menggunakan bolotu yang hanya perlu didayung. Kadang
penumpang bantu mendayung, tetapi tanpa bantuan penumpang pun,
perjalanan dari pulau kecil yang satu ke pulau kecil lain di dalam danau
yang dikelilingi perbukitan itu tetap bisa berlangsung, tanpa peduli
apakah itu cepat ataukah lambat karena memang tiada waktu yang terlalu
tepat maupun terlambat. Langit dan bumi bersenyawa tanpa peduli detak
arloji—dan Barnabas lebih suka menjadi bagian langit maupun bagian bumi
daripada arloji.
Maka tiada yang dikhawatirkan Barnabas jika pagi ini ikan-ikan seperti
bersembunyi. Langit memang gelapnya agak lebih lama karena mendung dan
hujan dan tentu saja ini harus dianggap biasa saja, begitu biasa,
bagaikan tiada lagi yang lebih biasa, dan sungguh Barnabas sama sekali
tiada keberatan karenanya.
Aku sabar menunggumu ikan, batinnya, setiap orang harus cukup bersabar
menantikan makhluk yang akan menyerahkan jiwa hari ini demi kelanjutan
hidup pembunuhnya. Apalah artinya menahan lapar sejenak untuk hidup
lebih lama? Nikmatilah hidupmu yang amat sementara itu ikan, karena pada
akhirnya aku akan membawamu ke pasar dan pedagang ikan akan segera
memajang dirimu di meja kayu murahan, tempat koki restoran di tepi danau
itu akan menunjukmu, membelimu, membuang sisik dan isi perutmu, lantas
menggorengmu bagi santapan para wisatawan yang akan membuang
tulang-tulang dan kepalamu untuk menjadi rebutan ikan-ikan emas di kolam
yang tak tahu menahu betapa cepat atau lambat mereka juga segera akan
jadi santapan dan tulang-tulang serta kepalanya juga akan dilempar
sebagai pertunjukan kebuasan dunia yang tampaknya justru meningkatkan
selera makan.
Barnabas tiba-tiba teringat, Klemen anaknya, yang putus sekolah teologia, pernah mengucapkan suatu kata yang tak dimengertinya.
”Homo homini lupus….”
Saat itu Barnabas memang bertanya, apa maknanya Klemen tidak melanjutkan
sekolah untuk menjadi pendeta, menyia-nyiakan tabungan hasil
berpuluh-puluh tahun berburu ikan. Di negeri danau, tempat setiap bukit
berpuncak salib, menjadi pendeta adalah kehidupan terpuji.
Namun inilah jawaban Klemen anak tunggalnya itu, yang pada suatu hari
tiba-tiba saja muncul kembali dari balik kabut di atas danau sambil
mendayung bolotu, meninggalkan sekolah di kota untuk selama-lamanya.
”Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi….”
Selama tinggal di rumah mereka, tempat kecipak air danau selalu
terdengar dari bawah lantai papan dari malam ke malam, Klemen tampak
sering tepekur. Ibunya sudah lama meninggal karena cacing pita dan
mereka hanya hidup berdua saja, sampai Klemen pergi ke kota, atas restu
pendeta, untuk belajar menjadi pendeta.
”Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara,” katanya, ”benarkah sudah cukup kita hanya berdoa?”
Barnabas bukan tak mendengar orang-orang berbicara dengan nada rendah
tentang penembakan dan kerusuhan di berbagai tempat lainnya. Klemen
pernah membacakan pesan pada benda kecil yang sering digunakannya pula
untuk bicara.
Aku masih di hongyeb, beberapa hongibi, dan syidos tahu persis siapa
pelaku penembakan di gidinya, bekas nyahongyeb Dadbdedsya katanya punya
data nama-nama pelaku penembakan. Mereka adalah (self-censorshipoleh
pengarang) yang menyamar sebagai pasukan sagangrod Tjhitgosoe ede dede
nyalabi, seragamnya sama dengan sagangrod ini, senjatanya yang beda. Ini
informasi A1, tapi kudu hati-hati, kami media tinggal tunggu siapa
otoritas yang berani sebut siapa mereka. Jangan percaya omongan para
petinggi munafik….
Barnabas sungguh tak mengerti apa yang harus dikatakannya. Negerinya
hanyalah sebatas danau dengan tiga puluhan pulau yang dikelilingi tebing
serba terjal dan meliuk berteluk-teluk itu. Ia tidak pernah tahu dan
tidak butuh apa pun yang lain selain cakrawala negeri danaunya itu, yang
telah memberikan kepadanya mega-mega terindah di langit biru,
bukit-bukit menghijau, dan kedalaman di balik permukaan danau tempatnya
memburu ikan-ikan yang baginya merupakan segala dunia yang lebih dari
cukup. Ditambah khotbah para pendeta yang menyejukkan setiap akhir pekan
dan pesta rakyat dari segenap pulau setiap tahun, itu semua sudah lebih
dari apa pun yang bisa dimintanya.
Namun Barnabas merasakan perubahan yang terjadi belakangan ini, bahwa
pendeta yang tidak bicara tentang kemerdekaan gerejanya akan sepi.
***
Hujan tampak menderas dan ketika Barnabas mengambil napas di permukaan
danau memang sepanjang mata memandang hanyalah dunia yang kelabu karena
tirai hujan dengan latar belakang bayangan punggung perbukitan di
kejauhan.
Perutnya terasa agak lapar tetapi tenaganya sama sekali belum berkurang.
Ia bisa membawa ikatan dua puluh sampai tiga puluh ekor ikan ke pasar,
tetapi jika hanya membawa sepuluh atau lima belas pun tidak ada yang
harus disesalinya sama sekali. Bahkan jika ikan yang ditombaknya cukup
besar—dan ikan-ikan terbesar suka menyendiri—maka seekor atau dua ekor
pun justru akan dibayar lebih tinggi daripada sepuluh ikan yang biasa.
Ya, ikan-ikan tak tahu kapan akan mati, batin Barnabas, tetapi pagi ini
tampaknya belum ada yang akan mati. Setidaknya di dekat permukaan ini.
Maka Barnabas menyelam, menyelam, dan menyelam semakin dalam, ke tempat ikan besar biasanya menyendiri.
Namun gagasan tentang ikan besar yang menyendiri ini, yang memisahkan
dirinya secara alamiah karena tak dapat lagi berombongan ke sana kemari
dengan ikan-ikan kecil meskipun dari jenisnya sendiri, mengingatkan
Barnabas kepada dirinya. Sedikit pemburu di antara penjala dan pemasang
bubu, dan di antara pemburu yang biasanya bekerja siang atau malam,
hanyalah Barnabas yang selalu bekerja tepat menjelang fajar
merekah—jelas membuatnya berbeda, keberbedaan yang mungkin menurun
kepada Klemen. Memang banyak hal tak dimengertinya pula dari
gagasan-gagasan Klemen, apalagi ketika ia bicara tentang pernyataan
untuk merdeka….
Manusia kadang masih seperti ikan, pikirnya, tak dapat bercampur baur dan hanya nyaman dengan golongan sejenisnya.
Di danau itu telah dimasukkan ikan dari tempat asing, seperti ikan gabus
Toraja, yang ternyata lebih suka memakan telur ikan gabus asli dari
danau itu maupun ikan-ikan lainnya. Ikan gabus asli yang disebut
khahabei itu harus dicari para penyelam di bagian danau terdalam.
Sedangkan ikan lohan yang juga asing di danau itu, tak hanya memakan
telur-telur ikan gabus, anak-anak ikan gabus, dan ikan-ikan kecil lain,
tetapi juga udang dan jengkerik . Maka ikan-ikan asli lain seperti ikan
seli, ikan gete-gete besar dan kecil, ikan gastor, ikan gabus merah,
ikan gabus hitam yang dahulu berlimpah kini hanya tertangkap dalam
jumlah sedang; yang masih banyak tinggal ikan-ikan hewu atau ikan
pelangi, tetapi ikan kehilo semakin susah dicari, mungkin karena makin
jauh bersembunyi, mungkin juga memang tinggal sedikit sekali. Tempat
mereka telah diisi ikan-ikan asing yang disebut ikan mata merah, ikan
tambakan, ikan sepat siam, ikan nila, ikan nilem, dan ikan mas. Barnabas
tahu benar, dahulu setidaknya terdapat dua puluh sembilan jenis ikan,
termasuk ikan laut yang masuk dari muara sungai di sebelah timur, dan
sekarang hanya enam belas jenis, itu pun tinggal sembilan jenis yang
asli.
Ikan makan ikan, apakah manusia tidak memakan manusia? Barnabas tidak
terlalu peduli apakah ia pernah menjawab pertanyaannya sendiri.
Sudah beberapa hari Klemen menghilang. Tetangganya menyampaikan kadang
ada orang datang bertanya-tanya tentang Klemen—bukan, mereka bukan
sesama penduduk di negeri danau yang saling mengenal sejak dilahirkan.
Perahu bolotu yang digunakan Klemen juga masih di tempatnya, ketika
beberapa malam lalu mendadak terdengar deru perahu Johnson di kejauhan
pada tengah malam. Penduduk yang masih terjaga saling berpandangan.
Mereka yang terbiasa menyendiri memang harus menghadapi segala
sesuatunya sendirian.
Barnabas menyelam makin dalam, bahkan sampai menyentuh lumpur di dasar
danau. Seekor ikan khahabei besar yang waspada berkelebat, mengepulkan
lumpur yang segera saja menutupi pandangan. Barnabas tidak dapat melihat
apa pun. Cahaya yang sejak pagi tidak pernah lebih terang dari
kekelabuan dalam hujan, di dasar danau ini tak dapat juga memperlihatkan
sesuatu kepada Barnabas.
Namun di antara kepulan lumpur pekat Barnabas merasakan sesuatu datang
dari dasar danau dan ia segera menghindarinya. Tak urung, sesuatu yang
mengambang karena gerakan ikan khahabei itu telah melepaskan
keterikatannya dari akar-akaran di dasar danau, menyentuh tubuhnya juga
dalam perjalanan ke permukaan danau.
Ia terkesiap dan melepaskan dirinya dari kepulan lumpur, melesat dan
menyusul sesuatu yang segera jelas merupakan sesosok mayat. Dari balik
kacamata selamnya yang buram, matanya terpaku kepada sosok itu, yang
perlahan tetapi pasti menuju ke atas sampai mengapung di permukaan
danau. Dengan cahaya yang sedikit lebih baik daripada di dasar danau,
meskipun tidak terlalu jelas, Barnabas dapat memastikan bahwa tangan dan
kaki mayat itu terikat, dan pengikatnya adalah robekan bendera bergaris
biru putih, sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah.
Di permukaan itu hujan bukan semakin mereda tetapi menderas. Angin keras
menyapu seluruh permukaan danau, sehingga air hujan yang turun dari
langit tersibak bagaikan tirai raksasa yang melambai-lambai. Di antara
deru angin yang menarik-narik daun pohon nyiur di semua pulau,
terdengarlah jeritan panjang dari tengah danau.
”Klemeeeeeeeennnn!”
Jembatan Tak Kembali

Aku akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian? Karena, setiap yang menyeberang di jembatan itu, tak akan kembali. Disergap oleh batas yang ada di seberang sana. Seberang yang berkabut. Dan berisi kesempurnaan.
Dan
sebagai jembatan, maka Jembatan Tak Kembali adalah jembatan yang begitu
indah. Kerangkanya berwarna merah. Punggungnya kuning keemasan.
Sedangkan pagar pembatas samping kiri-kanannya seakan-akan selalu
berputar pelan. Seperti berputarnya jarum jam yang bunyinya begitu
halus. Deg-deg-deg surrr.
Tapi,
meski tak kembali, selalu saja, hampir tiap saat ada yang menyeberangi
jembatan itu. Dan si penyeberangnya berasal dari sekian kalangan yang
berbeda. Baik berbeda umur, status, atau kepandaian. Dan rata-rata,
mereka selalu menampakkan wajah yang ceria. Penuh harap. Dan gelora.
Bahkan,
jika kalian saksikan, selalu saja ada di antara mereka (yang
menyeberang itu) bernyanyi. Terutama bernyanyi tentang apa-apa yang
membuat semua nafsu buruk memadam. Berganti dengan seribu genta mungil
yang melayang-layang. Genta mungil yang berdenting. Seperti denting
sebaris mantra. Mantra tentang sorga yang dicinta. Sorga yang ketemu
lagi.
Dan
sorga yang akan membuat mereka mencapai tingkat yang tiada tara.
Tingkat, di mana, apa yang mereka sandang akan menjadi sempurna. Dan
menjadi sesuatu yang menurut kabar yang ada, mencapai titik yang tak
terjabarkan lagi. Misalnya, yang pintar masak, akan dapat memasak tanpa
kompor. Yang pintar silat, akan bersilat tanpa bergerak. Dan yang pintar
berlari, akan berlari tanpa mengenal tenaga.
”Hoi, berilah kami kelancaran untuk menyeberang!”
”Hoi, juga kelancaran agar tak terperosok!”
”Hoi, juga keteguhan diri!”
Tentu
saja, meski mereka menyebut: ”Hoi!,” tapi nada suara mereka bukanlah
nada yang memaksa. Sebaliknya, penuh ketulusan dan kerendahan hati.
Ibarat sebuah lautan yang biru dan dalam, betapa, betapa tenangnya nada
suara mereka. Dan ibarat gunung yang menjulang, betapa, betapa,
sampainya puncak gunung itu ke langit lapis ketujuh.
Langit
yang di semua sisinya begitu meluas dan makin meluas. Seperti tak ada
lagi makhluk yang sanggup mengukurnya. Meski itu cuma di dalam pikiran
dan khayalan. Pikiran dan khayalan yang sanggup untuk menulis sekian
ribu halaman buku. Buku yang berisi tentang semua pengetahuan yang
pernah ditemukan dan yang akan ditemukan.
”Ayo, kita menyeberang. Sampai jumpa ya!”
”Yup, kita menyeberang bersama-sama!”
”Siap! Ayo berangkat!”
Dan
mereka (yang menyeberang itu) pun menyeberanglah. Dan rasanya, ketika
kaki mereka menjejak di punggung jembatan, pun menjelma semacam
langkah-langkah sebuah tarian. Langkah-langkah yang gemulai. Ke kiri, ke
kanan. Indah dan memesona. Mungkin, jika saja langkah-langkah itu
berada di atas panggung, tentu akan menjadi sebuah pertunjukan yang
serasi, kompak, dan menggetarkan.
Sedangkan
bagi yang melihatnya. Yang berada di pingir-pinggir, dan yang tak ikut
menyeberang, cuma bisa melambai. Sambil tetap mengarahkan pandangannya
tanpa berkedip. Di hati mereka, pun penuh dengan doa. Doa yang bermuara
pada satu harap: ”Cepat atau lambat, kami segera juga menyeberang.
Menyusul mereka. Menyusul untuk mencapai kesempurnaan. Tunggu saja.”
***
Hmm,
itulah ceritaku tentang Jembatan Tak Kembali. Sebuah cerita yang penuh
teka-teki. Kenapa? Karena aku yakin, kalian pasti akan bertanya: ”Jika
mereka yang menyeberang itu telah sampai di seberang jembatan. Di tempat
yang berkabut dan berisi kesempurnaan, lalu apa yang dilakukannya?
Apakah mereka menjadi puas? Atau ada hal lain yang perlu untuk juga
diceritakan di sini?”
Ahai,
pertanyaan yang bagus. Pertanyaan yang memang aku nanti. Dan jujur
saja, ternyata, ketika telah sampai di seberang, dan memperoleh
kesempurnaan yang diharapkannya itu, mereka memang menjadi lain. Apa
yang mereka sandang telah mencapai pada titik yang tiada tara. Tak
terjabarkan. Semuanya hanya tinggal dipinta dan diucapkan. Langsung
tersedia. Dan langsung bisa untuk direngkuh.
”Aku
ingin berlari ke bukit!” maka sampailah mereka ke bukit. Atau ”Aku
ingin merasakan masakan paling nikmat!” pun langsung tersedia. Dan itu
membuat mereka bahagia. Dan membuat mereka untuk terus-terusan
mengucapkan ini-itu yang beragam. Ini-itu yang membuat mereka cuma
berada di tempat. Tak bergerak. Sebab, buat apa mesti bergerak, jika apa
yang diinginkan selalu tersedia di hadapan. Tersedia dalam aneka ragam
yang dapat disesuaikan.
Jadinya,
karena kelamaan tak bergerak, pelan-pelan mereka pun menjadi terdiam.
Hanya mata mereka saja yang kedap-kedip. Mata yang begitu sempurna dan
layak untuk disebut sebagai mata yang bulat, bundar, dan penuh
ketenangan. Mata yang kini tampak tak lagi memikirkan bagaimana cara
mengasah apa yang disandangnya.
Ya,
mereka kini bukan lagi sebagai pengejar dari apa yang mesti dikejar.
Sebaliknya, mereka jadi sebagai si pendiam. Si pendiam yang tak lagi
menginginkan apa-apa. Sebab, apa yang mesti diinginkan, jika semuanya
begitu mudah untuk terwujud dan tercapai? Dan begitu mudah untuk
dibentuk hanya dengan sebuah ucapan? Dan rasa-rasanya, tanpa mereka
sadari tubuh mereka pun mulai mengeluarkan serabut.
Serabut
halus. Serabut yang entah apa warnanya. Tapi begitu berkilau. Dan
begitu menerangi tempat di mana mereka berada. Dan saking terangnya,
apa-apa yang bergeriapan di sekeliling mereka pun terlihat. Apakah itu
yang terbang, merayap, berguling, atau hanya sekadar terpaku tak
bergerak. Semuanya terlihat. Dan semuanya seakan-akan memang begitu
bahagia hanya untuk dapat terlihat.
***
”Akh, aku tak jadi menyeberang deh!”
”Loh?”
”Iya. Jika akhirnya cuma seperti itu, terus buat apa.”
Ya,
ya, itu adalah perkataan Jose di pagi ini. Perkataan yang mungkin
kesekian kalinya. Dan memang perlu kalian ketahui, Jose adalah
satu-satunya orang yang kerap membatalkan niatnya ketika akan
menyeberangi jembatan.
Padahal,
jika boleh aku bercerita pada kalian, semua yang ada di diri Jose sudah
mumpuni. Dan layak untuk mencapai kesempurnaan. Lain itu, barangkali,
hanya Jose-lah yang telah digadang-gadang oleh semua orang untuk segera
menyeberang.
”Tapi, siapa nanti yang akan memberi makan kucing-kucingku?” sergah Jose.
Kucing?
Astaga, inilah alasan sejak dulu yang mengganjal diri Jose untuk
menyeberang. Alasan untuk memberi makan kucing-kucingnya. Dan kini,
kucing-kucing Jose tidak lagi lima atau enam ekor. Tapi mungkin hampir
lima puluh ekor. Dan setiap pagi, siang, dan sore selalu diberinya
makan.
”Kucing-kucingku
butuh makanan yang layak?” begitu tambah Jose, ”Sebab kucing-kucingku
itu hampir tiap malam mengejari tikus-tikus. Tikus-tikus yang gemar
merusak setiap apa yang ada di kampung. Dan kalian tahu jugakan,
tikus-tikus yang merusak itu, kini semakin banyak. Gemuk-gemuk. Dan
ngawur-ngawur. Bahkan, saking ngawurnya, di siang bolong pun berani
merusak juga. Seperti sudah tak ada lagi yang ditakuti.”
”Terus, kapan kau akan jadi sempurna?” tanya seseorang.
”Aduh, biarlah tak jadi sempurna. Asalkan kucing-kucingku masih dapat aku urus.”
Dan
seperti yang sudah-sudah, Jose pun kembali meninggalkan pinggir
Jembatan Tak Kembali. Semua orang memandangnya. Semua orang melongo. Dan
seperti pendekar dari dunia antaberantah, kucing-kucingnya pun
mengintil. Kucing-kucing yang lucu. Kucing-kucing yang tangkas. Dan
kucing-kucing yang membuat orang yang melihatnya jadi gemas.
Bagaimana
tidak gemas, kucing-kucing itulah yang kerap mengganggu mereka ketika
sedang makan. Atau sedang enak-enak tidur. Sebab, tingkah laku dan suara
ngeongnya demikian keras dan memekak. Apalagi jika sudah memasuki musim
kawin. Ck ck ck kampung pun seakan-akan berubah menjadi panggung
simponi yang ribut. Simponi yang sering membuat genting-genting
bergeser.
Jose,
Jose, ya, itulah nama orang yang tak mau menyeberangi Jembatan Tak
Kembali. Jembatan untuk memperoleh kesempurnaan. Hanya karena tak mau
meninggalkan kucing-kucingnya. Dan karena ketakmauannya itulah, banyak
orang di kampung yang membicarakannya. Ada yang bangga. Ada yang cuek.
Dan ada pula yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh.
Si
aneh yang lebih suka memberi makan kucing-kucingnya daripada mengejar
kesempurnaan hidupnya. Dan mereka yang diam-diam menyebut Jose sebagai
si aneh ini, semakin lama, semakin bertambah. Dan siasat pun mulai
mereka gariskan. Yaitu, bagaimana caranya agar kucing-kucing Jose dapat
berkurang.
Mulailah
mereka mencuri kucing-kucing Jose. Yang kuning. Yang coklat. Yang
hitam. Yang putih. Dan yang kelabu pun dicurinya. Dimasukkan ke dalam
karung dan dibuang ke luar kampung. Sampai akhirnya, kucing-kucing Jose
habis. Dan Jose pun kelimpungan. Dan Jose pun menjadi sedih. Setiap
waktu, setiap saat, kerjanya cuma mencari kucing-kucingnya yang hilang.
Dan
di antara rasa sedih dan mencari inilah, mereka yang telah mencuri
kucing-kucing itu, berkata pada Jose: ”Jose, percayalah, kucing-kucingmu
itu telah menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Menyeberangi secara
diam-diam.” Tapi anehnya, sejak perkataan ini terlontar, sejak itu pula
sosok Jembatan Tak Kembali pun jadi menghilang. Tak berjejak. Seperti
ditelan kegaiban.
Dan tikus-tikus, yang kini tak lagi punya penghalang itu, pun segera merajalela di kampung!
Langganan:
Postingan (Atom)
